Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Bengkulu Jadi Target Sumber Bahan Baku Baja Cina

Provinsi Bengkulu menjadi salah satu target kawasan pemasok sumber bahan baku baja untuk negara Cina khususnya pasir besi dengan dua perusahaan utama yang akan menanamkan investasi yaitu China Nickel Resources dan Nanjing Steel, kata Direktur Eksekutif Walhi Bengkulu, Zenzi Suhadi. “Yang sudah masuk ke Bengkulu PT Fine Wealthy dari Hongkong dan pemerintah harus jeli melihat ini sebagai ancaman terhadap sumber daya alam daerah ini sebab Bengkulu bersama Bangka Belitung, Banten dan Tangerang serta Sukabumi akan menjadi target pengerukan,” katanya.
Bahkan Nanjing & Iron Steel Co Ltd (Nanjing Steel) menurut Zenzi dalam waktu dekat akan membangun pabrik pengolahan baja di sejumlah daerah ini berkapasitas 1 juta ton dengan total investasi sekitar US$500 juta, di Tanah Laut, Kalimantan selatan, pada tahun 2009 nanti.

“Saat ini, perusahaan tersebut berupaya menjalin kemitraan dengan para pemilik kuasa pertambangan (KP) di Kalsel. Nanjing Steel berencana menggandeng PT Krakatau Steel (KS)-perusahaan baja terbesar di Indonesia-terutama dalam penyediaan bahan baku biji besi,”terangnya.

Zenzi mengatakan besarnya kebutuhan akan baja dan peluang mendapatkan bahan baku dari negara-negara berkembang khususnya Indonesia dan Pemerintah China menyusun kebijakan untuk menahan laju eploitasi sumber daya bahan baja dalam negerinya dengan menerapkan pungutan ekspor 11 persen untuk billet dan slab (bahan baku baja), sehingga perusaan besar China mengalihkan modalnya ke Indonesia dengan melakukan investasi ke penambangan pasir besi dengan pungutan ekspor kecil dan baja ini kembali dipasarkan di Indonesia.

“Jangan sampai sumber daya alam kita yang dikeruk dan kembali dipasarkan di negara kita atau diekspor ke negara lain tetapi dengan pungutan yang sangat rendah, dan ini pasti akan berdampak negatif terhadap masyarakat yang tinggal di lokasi penambangan, khususnya mengakibatkan kerusakan terhadap lingkungan,”tambahnya. sejak 2008 sebanyak tujuh perusahaan asing telah masuk ke sejumlah daerah di Indonessi dan lima diantaranya merupakan investor asal Cina, satu investor asal India, dan satu investor asal Singapura.

Mereka adalah PT Vacation International Indonesia (asal China), yang menambang di Sukabumi Jawa Barat untuk memproduksi pasir besi dan pelet dengan total investasi US$2,585 juta, PT Oriental Pratama Indonesia (asal China), PT Fine Wealthy Indonesia (asal China) yang merupakan PMA Hongkong-RRC, bergerak di bidang industri pengolahan pasir besi dan jasa konsultasi di bidang pertambangan yang berlokasi di Kabupaten Seluma, Provinsi Begnkulu dengan kapasitas satu juta ton, PT Hoi Cheong Indonesia (asal China), akan membangun pabrik serbuk biji besi di Bangka Belitung senilai US$ 500.000 dengan kapasitas produksi 180.000 ton, PT Sinar Nusantara Mitra Selaras (asal China),membangun pabrik pelet besi berkapasitas 600.000 ton di Kalimantan Selatan dengan invetasi sebesar US$ 600.000, PT Indoferro (asal Singapura), pengolahan besi kasar dengan investasi US$ 40 juta di Cilegon, Banten, dengan total produksi 500.000 ton dan rencananya, pabrik tersebut akan mulai berproduksi pada 2009 dan PT Essar Indonesia (asal India).

1 komentar:

  1. terima kasih infonya yang sangat berguna bagi saya

    http://grabahbrass.blogspot.com/

    BalasHapus