Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

2 Warga Jadi Tsk, Satu Warga Lagi Ditangkap


Berdasarkan hasil pantauan Koran ini, warga tidak berani lagi menonton ramai-ramai truk PT. AA yang mengangkut buah sawit keluar. Mereka hanya menonton dari rumah masing-masing. Bahkan ada sebagian warga yang melihat truk sawit dengan mengintip dari rumah. Apalagi melihat truk PT. AA dikawal pihak kepolisian.


Tidak ada lagi warga yang mau memberikan keterangan. Mereka takut berurusan dengan hukum. Kalau pun ada yang mau memberikan keterangan, mereka mewanti-wanti agar tidak menyebutkan nama. Informasi diperoleh, secara sembunyi-sembunyi warga tetap melakukan pertemuan terbatas. Membicarakan cara mengeluarkan tiga warga yang berada di Mapolres.

Hingga sore kemarin, sekitar sepuluh truk sawit berhasil dikeluarkan dari lokasi perkebunan. Pengangkutan buah sawit keluar dari perkebunan habis salat Jum’at atau sekitar pukul 13.30 WIB dan terus berlanjut hingga malam.

Di bagian lain, dua beradik warga Pasar Ngalam, Indra Hadi (24) dan Nur Hamadi (19), harus memperpanjang waktunya bermalam di Mapolres. Dua beradik ini kemarin resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan membawa senjata tajam dan sebagai provokator dalam aksi demo PT. AA Kamis (21/5) kemarin yang berakhir ricuh. Dari hasil pengembangan tadi malam, polisi juga menciduk satu warga Pasar Ngalam lainnya bernama Wiwin (31).

Kades Belum Pulang

Kapolres Seluma AKBP Drs. Sugeng Harianto, SH menegaskan, dari hasil pemeriksaan Indra Hadi dan Nur Hamadi, keduanya dinyatakan cukup bukti sebagai tersangka.

‘’Sedangkan Kades Pasar Ngalam (Rajik) diambil keterangan masih sebatas saksi. Sementara Wewen masih menjalani pemeriksaan,’’ ungkap Kapolres tadi malam. Rajik sendiri, berdasarkan informasi yang diterima dari warga Pasar Ngalam, hingga tadi malam pukul 20.00 WIB, belum juga pulang ke desa.

Konflik masyarakat vs PT. AA ini mendapat sorotan dari caleg terpilih DPRD Seluma dari Partai Pelopor, Mufran Imron, SE. Ia mengharapkan konflik warga versus PT. AA ini dapat segera diselesaikan dengan kepala dingin. Serta tidak ada pihak yang terpancing emosi lagi. Sehingga membuat masalah tambah meruncing.

‘’Masalah ini juga mestinya mendapat perhatian dari Pemkab dan DPRD. Untuk mencarikan jalan terbaik baik masyarakat dan perusahaan yang membuka usaha di Seluma. Pemkab dan DPRD tidak bisa berpangku tangan lagi dengan terus meruncingnya masalah antara PT. AA dan masyarakat sekitar,’’ kritik Mufran Imron.

Terpisah, Bupati Seluma H. Murman Effendi, SE, SH meminta PT. AA untuk memenuhi tuntutan dari masyarakat yang demo tersebut. ‘’Sebelumnya kan PT. Agri Andalas sudah berjanji akan memberikan pembinaan dengan masyarakat sekitar perusahaan. Termasuk di antaranya menampung buah sawit dari masyarakat dengan harga yang standar,’’ katanya.

Terkait adanya tuntutan warga agar PT. AA tidak memportal akses jalan menuju kebun masyarakat, Murman juga memberikan dukungan pembukaan portal jalan tersebut. Bahkan dengan nada sedikit terbawa emosi, ia tidak keberatan warga menutup jalan yang dilalui truk PT. AA, jika portal di jalan ke kebun warga tetap dipasang PT. AA.

Sebagai bentuk dukungannya, Bupati langsung memanggil pejabat terkait, Sekkab Drs. H. Mulkan Tajudin, MM, Kabag Kesbangpol dan Linmas Drs. Yoesirnan Yoenus serta Kabag Humas dan Protokol Nopiar Oswari, S.Pd, MM. ‘’Senin (25/5), buat jadwal pertemuan dengan pimpinan PT. AA (Herman). Tidak boleh diwakili,’’ tandas Bupati kepada para pejabat terkait itu.

Sedangkan Ketua DPRD Hj. Rosnaini Abidin, S.Sos juga memberikan dukungan kepada masyarakat. Bahkan anggota DPRD yang berada di lingkungan PT. AA diperintahkannya untuk turun, terkait dengan terus meruncingnya konflik masyarakat vs PT. AA ini. Ia juga meminta kesadaran dari PT. AA terhadap tuntutan masyarakat di sekitar perusahaan.

Terkait adanya warga yang diamankan, Rosnaini menegaskan, DPRD Seluma akan berusaha untuk mengeluarkan masyarakat yang ditangkap polisi. ‘’Saya khususnya dan DPRD Seluma menyatakan siap sebagai jaminan agar warga yang diamankan dikembalikan ke rumah masing-masing. Apalagi ada yang masih berumur 19 tahun. Kasihan mereka kan, mereka hanya korban. Tak mungkin rasanya menjadi provokator,’’ ujar Rosnaini.

Kapolda Serahkan Ke Polres

Sementara itu, Kapolda Bengkulu, Brigjend. Pol. Drs. Ruslan Riza sepenuhnya menyerahkan penanganan kericuhan antara PT. Agri Andalas (AA) dengan masyarakat 5 Desa yakni Pasar Ngalam, Lawang Agung, Kungkai Baru, Air Periukan dan Keban Agung, kepada Kapolres Seluma, AKBP Drs Sugeng Harianto. Hingga kemarin, Ruslan Riza belum berencana menurunkan personel tambahan untuk mengamankan konflik antara waega dengan investor perkebunan sawit tersebut.

“Saya sangat prihatin dengan kasus tersebut. Bukankah sudah diberi kesempatan untuk melakukan unjuk rasa, tapi kenapa masyarakat malah seperti gerombolan dan melakukan tindakan anarkis. Tidak boleh itu, yang punya senjata saja seperti anggota Perbakin ini tertib. Harus ditindak tegas pelakunya,” tegas Ruslan Riza usai melepas peserta menembak dari Perbakin Jaya di Gedung Juang ’45, kemarin.

Menurut Ruslan, tidak ada salahnya kalau PT. AA menerapkan sistem 1 jalan portal untuk dilalui kendaraan batubara yang keluar masuk kawasan perkebunan. Dengan begitu pihak perusahaan lebih mudah melakukan pengawasan. Namun disisi lain ia juga tidak setuju dengan tindakan satpam perusahaan yang menguber kendaraan pengangkut sawit hasil perkebunan sawit milik masyarakat dan melakukan pemeriksaan.

Satpam, lanjutnya, tak punya kewenangan mencegat dan memeriksa truk pengangkut sawit milik warga. Hanya pihak kepolisian yang punya kewenangan dalam hal ini. Kalau memang satpam perusahaan ingin melakukan pemeriksaan terhadap truk-truk milik warga yang mengangkut hasil sawit, sudah barang tentu harus melakukan koordinasi dengan kepolisian setempat.

“Saya juga tidak setuju kalau satpam main periksa-periksa truk sawit warga. Apa itu. Polisi yang boleh melakukan pemeriksaan. Kalau memang mau memeriksa ya lapor dulu ke kita, biar ada personel kita yang turun,” tandas Ruslan.

Ruslan juga mengatakan, ia telah memerintahkan Kapolres untuk mengusut dugaan pencurian yang dituduhkan PT AA pada warga pemilik kebun sawit yang ada di sekitar lahan perkebunan PT AA. Jika pelakunya tertangkap, sudah barang tentu akan diproses sesuai hukum yang berlaku. “Saya akan cari siapa yang jual dan beli barang curian. Hasil kebun PT AA dengan hasil kebun warga, buahnya berbeda jauh. Saya tidak suka ada colong-mencolong. Nanti pasti akan ketahuan pelakunya,” kata Ruslan.

Ruslan mengingatkan, kepala desa yang ada di 5 desa hendaknya bisa mengkondisikan warganya dan mencegah jangan sampai melakukan tindakan anarkis. Jika memang tidak sanggup, kepala desa dicopot. “Kepala desa harus bisa dong mengkondisikan warganya. Kalau tidak bisa berhenti saja jadi kepala desa. Copot saja,” pungkas Ruslan.(RB)

0 komentar:

Posting Komentar