Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

PILIH BANJIR ATAU SAWIT? Studi Kasus Kecamatan Padang Guci Hilir Kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu

Padang Guci Hilir adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu. Wilayah Kecamatan Padang Guci Hilir di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tanjung Kemuning, sebelah Timur Berbatasan dengan Kelam Tengah, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Selatan, dan sebelah Utara berbatasan dengan Padang Guci Hulu. Luas wilayah Kecamatan Padang Guci Hilir 18.900 KM2 yang terbagi menjadi 9 desa. Yakni Desa Pulau Panggung, Desa Talang Besar, Desa Talang Jawi I, Desa Talang Jawi II, Desa Air Kering, Desa Air Kering II, Desa Talang Padang, Desa Gunung Kaya, Desa Ulak Agung.
Dari Sembilan desa tersebut tercatat jumlah jiwa penduduk Kabupaten Padang Guci Hilir sebanyak 4.212 jiwa. Sebagian besar penduduk bermatapencaharian sebagai peladang, bersawah, usaha kolam ikan, berternak, PNS, TNI, POLRI, pencari ikan di Sungai Padang Guci, dan lain-lain.
Sebagian besar penduduk Padang Guci Hilir merupakan keturunan dari masyarakat Pasemah Air Keruh Kotamadia Pagaralam Provinsi Sumatera Selatan. Mereka tinggal di kecamatan tersebut telah berlangsung lebih dari 160 tahun yang lalu. Berikut jumlah desa dan luasnya di Kecamatan Padang Guci Hilir:
NO Desa Luas Desa
(KM) Jumlah Jiwa Keterangan
1 Pulau Panggung 1.852
2 Talang Besar 1.300
3 Talang Jawi I 1.198
4 Talang Jawi II 2.042
5 Air Kering 1.202
6 Air Kering II 1.516
7 Talang Padang 1.567
8 Gunung Kaya 1.750
9 Ulak Agung 6.500
10 Jumlah 18.900
(sumber : Camat Padang Guci Hilir 2009)
Kecamatan Padang Guci Hilir memiliki tipe kecamatan dan desa yang memanjang sungai. Artinya pemukiman warga praktis berada di sepanjang sungai Padang Guci. Ini bisa dimaklumi mengingat tingginya ketergantungan warga terhadap Sungai Padang Guci, baik itu ketergantungan secara ekonomi dan sejarah berdirinya desa. Posisi Kecamatan Padang Guci Hilir jika dilihat melalui Kecamatan Kaur Utara seperti terletak di dalam mangkuk. Artinya, daerah ini berada di daerah lembah sungai Padang Guci.
Permasalahan
Di hulu sungai akan di buka perkebunan besar sawit seluas 7000 hektar oleh salah satu investor.
Kondisi Kecamatan Padang Guci Hilir berdampingan dengan Sungai Padang Guci, apalagi tipe kecamatan ini adalah tipe kecamatan memanjang sungai. Artinya rata-rata pemukiman penduduk berdiri berdasarkan tipe memanjang sungai. Ini ditambah lagi kondisi Kecamatan Padang Guci HIlir merupakan tempat pertemuan 5 sungai besar.yakni Sungai Padang Guci, Sungai Simbarbadak, Sungai Air Ngingitan, Sungai Airbuluh dan Sungai Air Cancap. Dari sini dapat dipastikan bencana banjir merupakan teman akrab bagi warga kecamatan ini.
Dampak bagi Pemukiman Warga
Dari hasil investigasi setidaknya ada 7 desa yang kerap dilanda banjir yakni Desa Air Dikit I, Desa Air Dikit II Desa Talang Jawi I, Desa Talang Jawi II, Desa Gunung Agung, Desa Talang Besar, dan Desa Ulak Agung. Kondisi saat ini kerap terjadi pencurian kayu (illegal Logging) di Hulu Sungai Padang Guci. Akibat dari illegal logging ini mengakibatkan banjir besar ketika hujan di Hulu Sungai dan mengikis bibir sungai Padang Guci. Tidak kurang dari 30 rumah warga di desa Talang Jawi I dan Talang Jawi II saat ini kondisinya mengenaskan. Jarak antara bibir sungai dan rumah warga tinggal 1 meter lagi. Warga saat ini dalam kondisi cemas jika terjadi hujan lebat di hulu sungai yang dapat menyebabkan banjir.
Dalam catatan masyarakat setidaknya telah 4 kali mengalami banjir bandang besar yang menghantam pemukiman penduduk, yakni tahun 1991, 1992, 2000 dan tahun 2001. Pada saat itu kerugian yang diderita warga tidak tercatat baik oleh pemerintah maupun warga. Banjir tersebut mengakibatkan 1 orang warga meninggal dunia terbawa arus sungai, puluhan rumah rusak, hanyutnya hewan ternak seperti sapi, kerbau, rusaknya usaha kolam warga, serta hancurnya ratusan hektar sawah milik petani.
Selain itu juga banjir di daerah ini telah menghanyutkan beberapa makam warga yang secara kebetulan letak Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik warga desa Talang Jawi II berada di sepinggir bibir Sungai Padang Guci.
b.2 Dampak Bagi Ekonomi Warga
Kondisi banjir yang kerapkali menjumpai warga Kecamatan Padang Guci Hilir menyebabkan kerugian ekonomi yang diderita masyarakat. Di desa Talang Besar setidaknya lebih dari 5 hektar sawah masyarakat hilang karena diterjang oleh arus Sungai Padang Guci. Begitu juga puluhan kolam ikan juga rusak. Akibat arus sungai yang terus mengikis pinggiran sungai perlahan tapi pasti, mendesak warga disepinggiran sungai untuk pindah atau merelakan usaha kolam ikan dan sawah mereka hilang.
Kondisi Sungai Padang Guci menurut warga saat ini memang sudah tidak dapat diprediksi lagi seperti dahulu. Jika dahulu beberapa daerah pinggiran sungai bisa dimanfaatkan oleh mereka untuk bercocok tanam/bersawah. Namun, untuk saat ini sawah tersebut tidak bisa dipakai lagi karena warga takut akan terjadi banjir, sawah dengan memanfaatkan tanah di pinggiran sungai Ini dinamakan warga dengan “Sawah pinjaman Tuhan” yang artinya menurut warga lebih kurang; warga yang mengelolah sawah tersebut mau tidak mau harus merelakan jika sewaktu-waktu banjir datang menghantam sawah mereka.
Selain itu dari hasil temuan tim, kondisi air sungai juga cepat berubah-ubah. Jika musim kemarau tiba maka debit air sangat kecil tidak bisa dimanfaatkan untuk kepentingan penduduk apalagi mengairi sawah. Begitu pula sebaliknya jika musim penghujan tiba air sungai akan meluap tumpah ruah ke pemukiman warga, dan tentu saja tetap akan merusak persawahan milik warga.
Mengingat tingginya potensi banjir dikawasan inilah yang membuat warga Kecamatan Padang Guci Hilir melihat perlu dilakukannya kejelasan mengenai rencana pembangunan perkebunan kelapa sawit seluas 7000 hektar oleh investor. Apalagi secara sejarah, dahulunya lokasi yang ditempati oleh 9 desa di Kecamatan Padang Guci Hilir merupakan arus utama yang dilalui aliran air Sungai Padang Guci.
a. Sejarah Desa di Padang Guci Hilir
Menurut pengakuan dari para tetua desa, desa tua di kawasan tersebut adalah Desa Air Kering, Desa Talang Jawi, Desa Talang Besar. Usia desa ini tidak kurang dari 160 tahun. Awalnya desa-desa tersebut merupakan talang atau tempat masyarakat menetap untuk berkebun dan berladang. Seiring dengan berkembangnya waktu maka lambat laun daerah ini terus berkembang dan mengalami pemekaran hingga saat ini.
Dalam investigasi ini memang belum didapat secara utuh mengenai sejarah berdirinya desa-desa tersebut, namun beberapa fakta sejarah yang telah kami dapat, tersebut dapat dihubungkan dengan kondisi lingkungan Kecamatan Padang Guci Hilir yang kerapkali dilanda banjir.
Desa tertua di kawasan ini adalah desa Air Dikit. desa ini awalnya terletak di daerah lain tepatnya berada di ketinggian bukit sebelah timur sungai Padang Guci. Namun karena gejala alam dan sedikit pemahaman mitos dari masyarakat maka mereka pindah ke kawasan yang saat ini mereka tempati.
Pada awalnya desa yang saat ini mereka tempati merupakan aliran arus dari Sungai Padang Guci, karena terjadi gejala alam/banjir besar yang membelah1 buah bukit maka, aliran air yang pada awalnya berada di tempat yang saat ini ditinggali warga berubah posisi menjadi alur sungai saat ini.
Bukit yang terbelah oleh banjir besar tersebut dinamakan masyarakat dengan “Bukit Batu Langit” keberadaan bukit ini dapat dilihat hingga sekarang. jika secara mitos menurut warga sejarah terbelahnya bukit tersebut yang menyebabkan berubahnya aliran sungai disebabkan oleh pertarungan dua ekor naga. Namun, jika ditelusuri secara ilmiah naga tersebut bisa diartikan sebagai aliran air besar (banjir bandang)
Dengan berubahnya bentuk aliran air, alur aliran air yang lama mengalami pengeringan sehingga terbentanglah satu buah perkampungan yang tentu saja subur karena banyak terdapat endapan lumpur yang dapat menyuburkan tanaman masyarakat. Maka dengan perintah pemuka desa saat itu maka pindahlah warga yang selama ini berada diperbukitan ke lembah bekas alur air Sungai Padang Guci. Maka dari itulah desa tersebut dinamakan desa Air Dikit. Fakta ini diperkuat dengan banyaknya bebatuan sungai yang ditemukan berserakan ditengah-tengah pemukiman warga.
Seringnya banjir dikawasan ini diperkuat dengan cerita rakyat yang mengalir secara turun temurun tentang meninggalnya 9 pasang pengantin yang tersapu oleh air Sungai Padang Guci. Terlepas apapun latarbelakang dari sejarah-sejarah tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa daerah Kecamatan Padang Guci Hilir merupakan satu kawasan yang akrab dengan bencana banjir.
Kondisi Pemukiman Warga Versus Perkebunan Besar Sawit
Diatas telah dipaparkan hasil temuan tim investigasi tentang kondisi pemukiman warga di kecamatan Padang Guci Hilir dengan segala ketakutan mereka akan bencana banjir. Kondisi banjir yang kerap menyapa warga ini telah terjadi saat kegiatan di Hulu sungai belum mengalami kerusakan parah.
Kondisi ini akan semakin diperparah jika pembukaan perkebunan besar sawit yang digagas oleh perusahaan. Secara otomatis akan terjadi penggundulan hutan di hulu sungai (Sungai Simbarbadak, Sungai Air Buluh, Sungai Ngingitan,Sungai Padang Guci dan sungai cancap) untuk memulai kegiatan penanaman sawit. Dapat diperkirakan bencana banjir dan pengikisan di sepinggir sungai akan semakin tinggi.
Persepsi Masyarakat Terhadap Perkebunan
hasil temuan persepsi (pendapat) masyarakat terhadap rencana perkebunan ini ditanggapi positif oleh masyarakat dengan catatan perkebunan tidak berada di hulu Sungai Padang Guci. Jika dilihat di Peta rencana perkebunan Perusahaan hulu sungai Padang Guci memang bukan merupakan wilayah operasi perkebunan.
Areal yang dijadikan wilayah perkebunan adalah hulu sungai simbarbadak, Sungai Airbulu, Sungai cancap, dan Sungai Air ngigitan. Namun jika pembangunan tersebut berada di hulu sungai padang guci maka sikap masyarakat adalah menolak tegas rencana perkebunan tersebut.
Jika diamati secara teliti di peta AMDAL perusahaan tersebut memang benar pembangunan tidak berada di hulu sungai Padang Guci tapi berada di 4 sungai yakni sungai simbarbadak, Sungai Airbulu, Sungai cancap, dan Sungai Air ngigitan. Namun, keempat sungai tersebut bertemu menjadi satu di air Sungai Padang Guci, dimana tempat bertemunya ke 4 sungai tersebut adalah kecamatan Padang Guci Hilir. Tepatnya mulai dari Desa Talang Jawi II, Tlang Jawi II, Air Kering I, Air kering II hingga ke desa terakhir yakni Desa Ulak Agung. Artinya kiriman dari ke 4 sungai ini bisa saja sekali waktu tetap menghantam Kecamatan Padang Guci Hilir.
dari sini apa yang akan kita pilih investasi dengan segala janji-janjinya, ataukah bencana yang siap meluluhlantahkan kehidupan warga???

0 komentar:

Posting Komentar