Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Puluhan Korban Tambang Kampanye Krisis Ruang Hidup di Bengkulu Minggu, 27 Juni 2010 | 10:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta -Puluhan masyarakat yang menjadi korban tambang dan perkebunan di Bengkulu pagi ini sejak pukul 10.00 WIB, Minggu (27/6) turun ke jalan melakukan kampanye krisis ruang hidup.

Hal itu intuk mengingatkan para calon pemimpin daerah mendatang, agar lebih bijak dalam memberikan izin Hak Guna Usaha Perkebunan dan Kuasa Pertambangan. Dikatakan Jaya, 36, salah seorang korban Tambang pasir Besi di Kabupaten Seluma, Bengkulu, kampanye hari ini memanfaatkan moment gegap gempita menyongsong Pemilukada serentak 3 Juli mendatang.

"Kita melihat sejauh ini tak satu pun para kandidat gubernur dan bupati menyinggung krisis ruang sebagai isu kampanye," katanya. Maka pada moment ini rakyat korban tambang, dan korban ketidakadilan pengelolaan tanah yang tidak berpihak kepada rakyat yang didampingi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Bengkulu, mengingatkan agar para calon pemimpin daerah mendatang, untuk lebih memikirkan krisis ini ketimbang menghambur-hamburkan tanah ntuk kepentingan investasi yang hanya memperkaya pelaku investasi bukan rakyat.

Bersama Walhi, masyarakat mengasumsikan hanya ada sekitar 350 ribu hektar lebih sisa tanah yang bisa di akses atau digunakan untuk masyarakat Bengkulu. Apabila tanah tersebut dibagkian secara merata kepada 1,8 Juta masyarakat Bengkulu, maka setiap kepala hanya kebagian ¼ (seperempat) hektar (Ha).

Perhitungan tersebut menurut kepala Departemen Kampanye dan Advokasi Walhi Firmansyah berdasarkan luasan Provinsi Bengkulu yang tidak kurang dari 1,9 juta ha. Dengan pembagian wilayah, luas hutan 900 ribu hektar lebih, luas areal yang telah dikuasai oleh Kuasa Pertambangan (KP) 200 ribu hektar, areal yang dikuasai Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan skala besar sawit, karet, kakao seluas 450 ribu hektar.

Selanjutnya, diasumsikan luasan untuk fasilitas umum seperti masjid, kantor pemerintah, jalan umum, perguruan tinggi, tanah milik TNI-Polri seluas 100 ribu hektar. Sementara kita asumsikan jumlah penduduk Bengkulu 2009 adalah 1,8 juta jiwa. "Ada sekitar 350 ribu hektar lebih sisa tanah yang bisa di akses atau digunakan untuk masyarakat Bengkulu. Apabila dibagkian secara merata kepada 1,8 Juta masyarakat Bengkulu, maka setiap kepala hanya kebagian ¼ hektar (Ha),"ungkapnya.

Dari perhitungan ini diprediksi, kondisi ruang hidup atau akses rakyat terhadap tanah semakin memperihatinkan. Ditambah lagi saat ini Pemerintah Bengkulu dari hari ke hari semakin membuka peluang lebar terhadap aktivitas penguasaan tanah dalam jumlah besar kepada perseorangan atau perusahaan, seperti pertambangan dan perkebunan, dengan dalih investasi.

Dari data yang dimiliki Walhi Bengkulu setidaknya, dalam tiga bulan terakhir terdapat 8 ajuan Draft Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang saat ini telah disetujui untuk melakukan aktifitas pertambangan dan perkebunan. Dengan luasan yang beragam mulai dari 42 ribu hektar hingga 10 ribu hektar.

Firmansyah mencontohkan PT Anugrah Pratama Inspirasi (API) memperoleh hak pengelolaan hutan menguasai 42 ribu lahan di Kabupaten mukomuko, jika 4 ribu ini dibagi empat, artinya sebanyak 10. 500 orang telah kehilangan hak akses terhadap tanah.

"Turunan akibat dari hilangnya akses tanah adalah kemiskinan, pengangguran, prostitusi, dan juga semakin besarnya kerusakan lingkungan hidup, karena harus diakui lemahnya control dan ‘nakal’nya para investor yang cenderung menghabiskan uang,'' tegasnya.

PHESI ESTER JULIKAWATI

0 komentar:

Posting Komentar