Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Kasih Tak Sampai .. (kami sadar uang tak bisa dimakan)

Gambar: RAHSCREEN
Apa jadinya jika pohon terakhir telah dicabut, sungai terakhir telah tercemar, ikan terakhir telah mati akankah kami sadar uang tak bisa dimakan …

sebaris kalimat yang pernah dijadikan landasan kepedulian kelompok kepada lingkungan hidupnya, kiranya cukup memberikan makna bahwa kita saat ini tengah memasuki sebuah gerbang kehancuran lingkungan hidup secara global andaikata kita tidak mampu merubah paradigma dalam memenuhi kebutuhan ekonomi tanpa memperhatikan kondisi lingkungan hidup.

Secara global lingkungan hidup mulai menjadi isu utama dipanggung dunia diawal 70-an, saat itu dunia mulai melihat bahwa kebijakan peningkatan pertumbuhan ekonomi yang dilangsungkan oleh setiap Negara dalam konteks pembangunan mulai memberikan dampak negative yang sangat besar. Tingkat kehancuran lingkungan hidup terjadi secara cepat dan dalam skala yang sangat besar tdak mampu dibendung, hal yang secara tidak lansung akan memberikan dampak yang sangat besar dalam keberlansungan hidup umat manusia itu sendiri. Untuk menyikapi hal ini, perserikatan bangsa-bangsa (PBB) lalu menbentuk United Nations Evironment Programme (UNEP) yang mengatur masalah lingkungan pada 1972. Pada tahun yang sama, PBB menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi bumi di kota stockholm, Swedia, yang diikuti lebih dari 100 negara. Maka sejak saat itu, persoalan lingkungan hidup bukan menjadi persolan inetrnasioanal, mengingat kondisi lingkungan hidup disuatu negara akan berpengaruh pada tata sistem lingkungan hidup dibelahan negara lainnya.

Paska Konferensi Stockholm, ternyata belum mampu mengatasi persoalan lingkungan hidup yang ada, hal ini lebih disebabkan berbedanya pandangan antara negara maju dan negara terbelakang. Negara-negara maju tetap mempertahankan pola hidup boros, tetap menjalankan pembangunan sentra-sentra industri yang tidak ramah lingkungan, dan konsumsi energi yang semakin meningkat sehingga menghasilkan proses penghancuran lingkungan hidup. Dilain pihak negara-negara berkembang  terus meningkatkan eksploitasi sumber daya alam yang merupakan investasi terbesar untuk kelansungan pembangunan sekaligus untuk membayar utang-utang luar negeri sebagai penggerak roda ekonominya, Hal inilah yang menjadi faktor utama kerusakan lingkungan hidup secara global.

Keadaan lingkungan hidup yang semakin kritis membuat persolaan ini semakin keras disarakan, atas desakan aktifis lingkugan hidup akhirnya PBB kembali menyelenggarakan konferensi tingkat tinggi bumi tentang lingkungan dan pembangunan (UN Conference on environment and development, UNCED) di Rio de Janeiro, Brazil 1992. Dalam KTT bumi ini pemimpin dunia sepakat mengadopsi rencana-rencana besar yang terkait upaya konservasi lingkungan, sementara untuk mensejahterakan umat manusia melalui praktek pembangunan. KTT Bumi ini pada umumnya menekankan perlunya semangat kebersamaan untuk mengatasi berbagai masalah yang ditimbulkan oleh benturan antara upaya-upaya melaksanakan pembangunan dan pelestarian sumber daya alam.

Dari pertemuan tingkat tinggi yang yang telah dilakukan, maka dpandang perlu untuk memperjelas komitmen setiap negara untuk ikut serta dalam penyelesaian permasalahan lingkungan hidup. Perundingan antar negara ini berujung pada konferensi di Kyoto, Jepang Desember 1997. Konferensi ini pada hakikatnya melahirkan sebuat komitmen bersama dalam mengatasi permaslahan pemanasan bumi yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca. Protokol Kyoto, disusun untuk mengatur target kuantitatif penurunan emisi dan target penurunan waktu emisi bagi Negara maju, sementara bagi Negara terbelakang tidak memiliki kewajiban atau komitmen untuk menurunkan emisinya.

Protocol Kyoto memuat tata cara penurunan emisi gas rumah kaca melalui tiga mekanisme, berupa Joint implementation:mekanisme penurunan emisi gas rumah kaca antar Negara maju. Clean development mechanism: mekanisme penurunan emisi gas rumah kaca yang dilakukan antar Negara maju dengan Negara terbelakang. Emission Trading: mekanisme perdagangan emisi antar Negara maju. Hasil kesepakatan protocol Kyoto kembali dikuatkan dalam pertemuan cancun, Mexico 2003, dan meneruskan komitment antar Negara yang tertuang dalam protocol Kyoto yang akan habis masa berlakunya pada tahun 2012 (periode komitmen I)

Didalam perjalanannya, semua pertemuan dan kesepakatan antar Negara ini, kita dapat melihat bagaimana kepentingan ekonomi jauh lebih diutamakan daripada kepentingan lingkungan hidup dan kelansungan hidup umat manusia. Misalnya Negara maju, Amerika Serikat yang enggan meratifikasi protocol Kyoto guna mempertahankan kepentingan ekonominya. Amerika serikat beranggapan bahwa protocol Kyoto akan memperlambat pertumbuhan ekonomi negaranya. Mundurnya efektifitas dari kesepakatan antar dunia tentang lingkungan hidupkarena alasan untung rugi dalam bisnis murni menunjukkan bahwa dalam skala global sekalipun, isu lingkngan masih menjadi sub ordinasi dari pembangunan ekonomi. Isu lingkungan tidak pernah menjadi perhatian utama dalam sejarah peradaban manusia .

Cttn:Deff  Tri Hamri

0 komentar:

Posting Komentar