Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

TAMBANG TUTUP, MASYARAKAT BAYAR NAZAR

Tambang Tutup, Masyarakat Bayar Nazar

Alunan musik gamelan berpadu dengan gelak canda ribuan masyarakat Desa Rawa Indah, Penago Baru, Tegal Arum dan Penago Satu, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu, hari itu Rabu (21/9). Tak tampak lagi kesedihan dan raut cemas serta ketegangan seperti yang terjadi selama hampir tujuh tahun.Hari ini kita semua merasa merdeka dan bebas dari ancaman tambang pasir besi yang selama ini beroperasi di desa ini, kita bernazar (niat) jika tambang itu berhenti operasi maka kita akan menggelar syukuran dengan memotong sapi," kata Kepala Desa Penago, Baru Masrutun.

Syukuran itu digelar di lapangan bola voli Desa Penago Baru, dihadiri kepala desa beserta perangkat, tokoh adat, tokoh masyarakat, alim-ulama, dan seluruh masyarakat umum. Di dapur umum tampak kaum ibu dan pemuda sibuk mempersiapkan masakan daging sapi yang telah disembelih pada subuh.Sementara pada bagian lapangan bola voli, terbentang tenda berukuran sederhana dengan terpal nyaris lusuh. Sekelompok paguyuban masyarakat asal Jawa mempertontonkan atraksi kuda kepang berpadu dengan tarian masyarakat lokal Suku Serawai, sebuah perpaduan budaya yang mempertontonkan keindahan solidaritas dan toleransi Indonesia.

Desa Rawa Indah, dan Tegal Arum awalnya sebuah lokasi penempatan transmigrasi dari Jawa, sementara Penago Baru dan Penago Satu adalah desa penduduk asli masyarakat dari Suku Serawai. Kehidupan mereka selama ini sangat rukun, bersahaja, bertani, nelayan, pedagang dan sedikit pegawai.Ariyanto dan Rubino, masing-masing transmigran asal Yogyakarta dan Jawa Timur, menyatakan, dua puluh lima tahun silam ia diberangkatkan ke Bengkulu dalam program transmigrasi untuk mengubah hidup.

Kehidupan layak mereka rengkuh secara damai dengan masyarakat lokal dalam bingkai toleransi dan persaudaraan, tetapi pada 2006 datanglah sekelompok pengusaha pertambangan asal Hongkong yang mendapatkan kuasa pertambangan (KP) dari Bupati Seluma seluas 3.645 ha, yang berada di tiga blok pertambangan.Masing-masing Blok I (450 ha) yang berada di kawasan padat huni, Blok II (143 ha) di Sempadan Pantai, dan Blok III (3.250 ha).Rubino menyatakan, akibat pertambangan kawasan pantai yang dahulunya rimbun dengan hijau hutan bakau seluas 10 Ha dan merupakan kawasan cagar alam Pasar Talo, kini nyaris punah.

Dalam tiga tahun terakhir, pantai juga selalu terancam abrasi akut ketika terjadi angin besar, yang juga menerpa permukiman penduduk yang hanya berjarak 50 meter dari bibir pantai. Mayoritas masyarakat yang semula menggantungkan hidup dari hasil laut kini gigit jari.Perempuan pesisir yang sebelumnya memiliki tradisi mencari kerang di bibir pantai, tak lagi dapat menjalankan aktivitasnya. Kerang laut yang sebelumnya banyak ditemui di pasir pantai, sejak kehadiran perusahaan tak kelihatan lagi, akibat rusaknya kawasan pesisir. Pertambangan di kawasan cagar alam oleh perusahaan sempat digugat oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu, namun berakhir dengan kekalahan di pengadilan.

Koordinator Perlindungan dan Konservasi BKSDA Bengkulu Supartono mengatakan aktivitas penambangan pasir besi itu berada di dalam areal konservasi. Tepatnya pada titik 1020 36-48,1 BT,40 12-49,4, itu ada di antara pal batas CA 100 dan CA185.Sebenarnya penambangan memang berada di dalam kawasan CA Pasar Talo Register 94, hanya saja ahli hukum mengutak atik permasalahan berdasarkan status kawasan yang belum ditetapkan," kata Supartono saat berdiskusi dengan Walhi, sambil menunjuk peta hasil cek silang di lapangan (Sumber: Jaringan advokasi tambang).

Sejak perusahaan melakukan pengerukan, berbagai masalah datang. "Sungai Penago yang dibendung guna kepentingan penambangan, sering meluap dan airnya membanjiri persawahan dan kebun kelapa sawit kami," kata Salikin, warga Penago Baru.

Pengerukan juga mengakibatkan pasang air laut tak punya penghalang dan langsung menghantam daratan. Sebab, sekitar dua kilometer panjang pantai Air Tapak Batang hingga Muara Penago sudah dikeruk, akibatnya hempasan ombak langsung menerpa hutan cagar alam di sana."Kalau musim pasang naik tiga bulan, yang biasa kami sebut ’geloro’ tiga oleh masyarakat, hempasan ombak sangat kuat. Apalagi kalau pasir di pantai itu terus diambil, pasti lama-lama akan mengenai permukiman," katanya.

Merasa gugatan melalui BKSDA menemui jalan buntu, masyarakat yang sebelumnya telah bermufakat untuk meminta tambang berhenti operasi, melakukan beberapa kegiatan, di antaranya beraudiensi dengan bupati setempat, menggelar diskusi dengan pihak universitas dan mahasiswa, menyurati Menteri Kehutanan serta lingungan hidup hingga beberapa kampanye untuk memperoleh dukungan."Alhamdullilah, seiring dengan kesabaran bersama waktu perusahaan secara pelan-pelan berhenti beroperasi sejak dua tahun terakhir, dengan cara membongkar seluruh alat operasi tambang, dan baru sekarang kami bisa membayar nazar," kata Salikin.Acara syukuran tersebut digelar secara swadaya oleh masyarakat dengan cara mengumpulkan sumbangan per kepala keluarga, sehingga panitia mampu mengumpulkan dana sebesar Rp7 juta untuk membeli seekor sapi serta bumbu dan sewa peralatan pendukung lainnya. Acara digelar nyaris tanpa kemewahan dan liputan media massa karena lokasi mereka relatif jauh dari Kota Bengkulu, sekitr 70 kilometer, dengan kondisi jalan desa yang rusak parah.

Sailun, tokoh masyarakat yang juga ketua forum masyarakat peduli lingkungan (FMPL) setempat, dalam kata sambutannya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam membebaskan kampung dari ancaman kerusakan lingkungan hidup."Ada banyak pihak yang membantu perjuangan kita, baik secara langsung maupun tak langsung, pemerintah, mahasiswa, dan para tetangga desa, terima kasih atas dukungan selama ini, saya berharap ke depan kita semua tetap menjadi saudara yang baik," ucapnya.

Ancaman masih mengintai

Keberhasilan masyarakat Kabupaten Seluma menghentikan tambang pasir besi secara damai tanpa ada tindakan yang negatif menjadi contoh banyak kalangan baik dari dalam kabupaten, dalam Provinsi Bengkulu, bahkan masyarakat dari Jawa.

"Dalam waktu dekat akan datang masyarakat dari Yogyakarta, dan daerah lain untuk mencontoh kita dalam menjaga kerusakan lingkungan kampung dari ancaman pertambangan, ini membuat kami terharu," ujarnya.

Ia menginginkan agar aktivitas pertambangan dapat menaati undang-undang dan aturan hukum lainnya secara benar, bukan hanya sebagai kitab suci yang tersimpan rapi tanpa ada pelaksanaan yang tentunya akan merugikan negara dan rakyat.Panjangnya perjuangan mereka ternyata berdampak positif bagi kecerdasan wawasan masyarakat daerah itu. Karena itu tidak aneh jika ’kita’ bertemu dengan kaum bapak yang mencangkul atau menjaring ikan di laut, tetapi begitu fasih berbicara tentang aturan hukum lingkungan hidup, berbicara hak asasi manusia, tanpa mencederai pihak lain.Mereka mempunyai cita-cita ideal terhadap kemajuan dan kehormatan bangsa murni tanpa kepentingan kotor dari mana pun, landasan berfikir mereka hanya bersumber pada UUD 45, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, serta konsep negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Masyarakat sepakat ke depan mereka akan merehabilitasi beberapa kawasan sisa pertambangan yang meninggalkan puluhan lubang besar menganga di desa mereka. Mereka juga akan menanami kawasan sempadan pantai yang rusak akibat eksploitasi pertambangan dengan mangrove, cemara dan pohon lainnya.Mereka juga telah membangun kesepakatan dengan BKSDA untuk menjaga kawasan yang berstatus cagar alam tersebut secara bersama dan dikoordinir secara baik oleh pemerintah.

"Kami telah sampaikan niat kami untuk menjaga kawasan tersebut dengan BKSDA, dan disambut baik, kabarnya kini BKSDA akan membantu bibit pohon untuk menghijaukan kembali kawasan bekas pertambangan mudah-mudahan cepat terealisasi," ucap Sailun. Data dari jaringan advokasi tambang (Jatam) dan Walhi Bengkulu, di kawasan tersebut tersimpan kandungan pasir besi setidaknya jika dirupiahkan mencapai Rp19,9 triliun.

"Kini masyarakat boleh bahagia karena pertambangan telah berhenti, tetapi ke depan ancaman akan semakin hebat, karena kandungan pasir besi untuk kebutuhan dunia di kawasan ini luar biasa banyak, semangat menjaga kelestarian lingkungan kampung harus tetap disalurkan kepada generasi mendatang jika mereka ingin kampung mereka tetap selamat," kata Direktur Walhi Bengkulu, Zenzi Suhadi.Hal yang sama juga dirasakan sebagian besar warga empat desa itu, mereka menyadari ancaman dari pihak lain untuk mengambil kandungan pasir besi yang melimpah di kampung mereka tetap ada, bahkan menurut Walhi, setidaknya telah ada tujuh perusahaan asing dan nasional mengincar kawasan tersebut setelah perusahaan yang lama berhenti beroperasi.

Sebagai langkah antisipasi warga akan tetap menggelar pendidikan lingkungan hidup kepada generasi muda, meningkatkan program penanaman pohon, kewirausahaan dan lain-lain, baik secara mandiri maupun bekerjasama dengan pemerintah.Lalu di kampung tersebut akan dibuat sebuah prasasti peringatan kepada seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan hidup dan kampung mereka dari ancaman pertambangan.

"Kami tidak inginkan pertambangan datang lagi ke sini meski kandungan biji besi banyak di kampung kami. Kami membutuhkan bimbingan agar kehidupan ekonomi kami menjadi baik terutama sektor pertanian dan perikanan, karena itulah andalan kampung kami," demikian Sailun.

Sumber : http://oase.kompas.com/read/2011/09/23/06514221/Tambang.Tutup.Masyarakat.Bayar.Nazar

1 komentar:

  1. memang benar thu lingkungan merupak aset kita yang harus senantiasa kita lindungi dan kita selamatkan dari tanggan manusia yang hanya bisa merusak dan mengambil keuntunggan pribadi tanpa memikirkan akibat ulah yang di lakukan merugikan masyarakat pada umumnya.

    BalasHapus