Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

60 Persen Pertambangan Masuk Kawasan Lindung

60 Persen Pertambangan Masuk Kawasan Lindung
07 - 10 - 2011 | 10:49

Bengkulu-Walhi Bengkulu mencurigai 60 persen dari total 99 ribu kawasan pertambangan di daerah itu masuk dalam kawasan hutan lindung Bengkulu.


"Indikasi tersebut dapat dilihat areal peruntukkan lain (APL) untuk aktifitas masyarakat seperti perkebunan, pemukiman, dan lain-lain sudah tidak ada, aktifitas masyarakat telah berbatasan dengan hutan produksi terbatas (HPT)," jelas direktur eksekutif Walhi Bengkulu Zenzi Suhadi, Jumat.


Dikatakan, dia, masyarakat Bengkulu saat ini mengalami krisis ruang hidup dan kepemilikan tanah karena telah habis diberikan kepada pengusaha pertambangan dan perkebunan skala besar.


Ia menambahkan agar menteri kehutanan menolak usulan alih fungsi kawasan hutan karena diindikasikan dipergunakan untuk kepentingan pertambangan.


Hal ini menurutnya semakin menjadi ancaman bagi kehidupan rakyat karena daerah lindung, seperti taman nasional, hutan lindung, pusat latihan gajah (PLG), dan taman buru, merupakan daerah tangkapan air yang rusak karena pertambangan.


Kerugian yang terasa langsung dirasakan oleh masyarakat sekitar kawasan yang mayoritas adalah petani.


Ancaman kekeringan pada sawah, perkebunan, serta kerusakan saluran irigasi akibat aktifitas pertambangan terjadi pada beberapa daerah di Bengkulu.


Ia menekankan kepada pemerintah daerah setempat untuk melakukan evaluasi terhadap beberapa pertambangan yang 'nakal' dengan cara mengecek ulang luasan kuasa pertambangan (KP), dab dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL).


Dalam UU pengelolaan perlindungan lingkungan hidup (UUPLH) pemerintah dan masyarakat dapat memberikan sanksi kepada perusahaan pertambgan yang melakukan kerusakan lingkungan hidup.


Sejauh ini belum ada langkah berani dari pemerintah setempat untuk menjalankan amanah UUPLH bila ditemukan beberapa perusahaan pertambangan yang tidak taat aturan hukum. (kabar bengkulu)

0 komentar:

Posting Komentar