Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Pembakar PT SIL Masih Bebas

Pembakar PT SIL Masih Bebas

SELUMA BARAT – Pascaamuk massa dari lima desa membakar PT. Sendabi Indah Lestari (SIL) di Desa Lunjuk Kecamatan Seluma Barat, belum satu pun pelaku ditangkap. Kendati masih bebas berkeliaran, orang-orang terkait aksi anarkis membakar kantor, perumahan karyawan serta 2 alat berat PT SIL, tak akan tenang.

Pantauan RB, polisi saat ini tegah bekerja keras melakukan penyelidikan mengungkap pelaku utama, penggerak dan yang memprovokasi massa melakukan perbuatan anarkis. Dipastikan akan banyak warga yang terseret dalam kasus anarkis ini. Sementara di lokasi amuk massa saat ini dalam penjagaan ketat 1 pleton (30 personel) Satuan Brimob Polda Bengkulu bersenjata lengkap. Juga dibantu anggota Polres Seluma.

Kapolres Seluma, AKBP Yudi Wahyudiana, S.Ik, MM ditemui RB kemarin (1/10) membenarkan sejauh ini belum ada satu warga yang diduga terlibat anarkis ditangkap atau diamankan. Namun demikian ditegaskannya kalau pihaknya tak akan membiarkan begitu saja aksi massa ini. Dipastikan akan ada yang ditetapkan sebagai tersangka. “Masih dalam penyelidikan, yang jelas akan ada tersangka karena perbuatan mereka sudah anarkis,” tegas Kapolres.

Mengenai kemungkinan berapa banyak calon tersangka, Kapolres belum berani memastikan. Namun lanjut Kapolres saat ini anggotanya masih melakukan pengumpulan data dan barang bukti di lapangan. Aksi anarkis yang dilakukan ratusan warga dari lima desa yakni Desa Lunjuk, Tumbuan, Pagar Agung, Sengkuang Jaya dan Talang Perapat menurut Kapolres ada provokator atau orang yang memanas-manasi warga yang umumnya hanya ikut-ikutanm, tak tahu duduk permasalahan.

“Saya sangat menyayangkan sekali aksi tersebut, karena adanya provokator. Makanya saya mengimbau kepada pemilik lahan di HGU PT SIL jangan menjadi provokator dan mengorbankan petani kecil yang hanya memiliki lahan setengah atau 1 hektare,” ungkapnya.

Dari apa yang disampaikan Kapolres kemarin, tersirat ada aktor dibalik kerusuhan yang diduga memiliki lahan luas di eks lahan PT Way Sebayur yang sekarang dikuasai PT SIL. Hanya saja ketika didesak, Kapolres tak mau secara tegas menyatakan adanya aktor intelektual di balik amuk massa tersebut.

Harta Karyawan Diganti

Sementara itu, Manajer PT. SIL, Ribut Prahoro ditemui kemarin (1/10) memastikan perusahaan akan memberikan ganti rugi kepada karyawan yang telah menjadi korban anarkis massa. Besarannya tergantung dengan kerugian yang dialami karyawan bersangkutan. “Perusahaan pasti akan mengganti, karena perusahaan tidak akan merugikan karyawannya,” ujar Ribut.

Masih menurut Ribut, pascaamuk massa, kegiatan perusahaan mulai berjalan kendati serba darurat. Dia mengaku cukup kecewa dengan aksi yang dilakukan warga. Dikatakan ratusan warga yang datang ke perusahaan bukan hanya membakar dan merusak fasilitar kantor. Tetapi juga telah melakukan penjarahan. Diantaranya 2 ekor sapi dan sekitar 12 kambing. Selain itu, Ribut mengklaim warga juga telah mencuri bibit sawit perusahaan.

Sedangkan mengenai total kerugian yang dialami perusahaan, Ribut menyatakan angkanya berkisar Rp 5 miliar. Memang tidak bisa dirinci secara pasti, kerugian terbesar adalah dengan dibakarnya 2 unit alat berat dan fasilitas lainnya. Tidak itu saja, bibit sawit senilai Rp 1 miliar hanya menyisakan sekitar 25 persen saja yang masih bisa digunakan.

“Total bibit sawit kita ada 100 ribu batang. Dengan harga per batang Rp 12 ribu. Kalau ditotal kerugian akibat kerusakan bibit saja sudah mencapai Rp 1 miliar. Belum ditambah yang lainnya,” terang Ribut

Anggap Sebagai Teguran Allah

Pantauan RB, kendati dalam keadaan terbatas, karyawan PT SIL yang bertugas di bidang administrasi sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Mereka tidak menempati kantor yang selama ini digunakan, melainkan rumah komplek yang lepas dari amukan massa.

“Kita tetap lanjutkan pekerjaan, kita anggap ini sebuah insiden dan teguran dari Allah SWT. Karena dari awal membangun sampai saat ini kita belum mendirikan masjid,” kata Ribut Prahoro.

Ribut yang sangat terpukul oleh ulah massa dari lima desa itu, tetap memberikan peluang kepada warga untuk bernegosiasi. Terutama warga yang mengklaim memiliki lahan yang masuk HGU PT. SIL. Menurut Ribut, perusahaan siap memberikan ganti rugi tanam tumbuh yang besarannya sudah ditetapkan Perda. “Kalau memang nanti mengalami kendala, kita siap bernegosiasi,” ungkapnya.

Mengenai keberadaan PT SIL di lahan yang masuk wilayah Kecamatan Seluma Barat tersebut setelah PT. SIL menjadi pemenang lelang lahan seluas 2.812 hektare. Sebelumnya lahan itu dikelola PT. Way Sebayur, karena tidak mampu lagi, akhirnya negara melelang lahan itu.

Mengenai adanya warga yang mengaku memiliki kebun yang masuk dalam lahan yang dikuasai PT SIL, menurut Ribut, itu terjadi sewaktu lahan seluas 2.812 hektare yang tak mampu lagi dikelola, ditinggalkan oleh PT Way Sebayur. Saat itu lah (sebelum dikuasai PT SIL) warga memanfaatkan lahan yang ditinggalkan itu menanaminya dengan berbagai jenis tanaman. “Masalah ini sudah pernah kita musyawarahkan, dimana tanaman warga yang ada di dalam areal itu akan diganti rugi sesuai dengan ketentuan Perda. Dimungkinkan ada salah paham dengan warga, terjadilah hal yang tak diinginkan ini. Atas kejadian ini, selanjutnya kita serahkan ke pihak kepolisian untuk memprosesnya,’’ terangnya.

Hingga kemarin aktivitas perusahaan berjalan normal. Ibu-ibu yang juga berasal dari Desa Lunjuk dan sekitarnya sibuk memasak di dapur umum yang sudah didirikan sebelumnya. Beberapa satpam terlihat berjaga-jaga mengantisipasi kemungkinan yang tidak diinginkan. Tidak jauh dari komplek tampak berdiri tenda berukuran besar untuk keperluan sembari menunggu perbaikan rumah rampung. “Perusahaan akan tetap jalan dan tidak akan berhenti. Kita anggap ini sebagai musibah,” tutur Ribut.

Di bagian lain, pasca serangan warga terhadap PT. SIL, beberapa desa dari total 5 desa yang menyerang perkantoran yakni Desa Lunjuk, Talang Perapat, Tumbuan dan Pagar Agung serta Sengkuang Jaya, tampak lengang. Di Desa Lunjuk misalnya, siang kemarin aktivitas di desa ini tampak sepi. Tidak terlihat bapak-bapak atau anak muda yang melintas di jalan desa sejak serangan yang dilakukan Kamis (29/9) malam yang menyebabkan PT SIL mendadak berubah menjadi lautan api.

Kades Lunjuk, Seluma Barat Dahroni dihubungi RB mengatakan sejauh ini aktivitas di desanya berjalan normal. Tentang adanya ketakutan warga ditangkap polisi, dia berharap itu tak terjadi. ‘’Masyarakat berharap masalah ini dapat diselesaikan secara persusif,(RB BENGKULU)

1 komentar:

  1. Way sebayur yang dulu cuma untuk korupsi memperoleh HGU tersebut. Sangat pantas masyarakat mengelola lahan terlantar tersebut daripada berharap bantuan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan. tapi yang hebatnya kok tahu-tahu dilelang untuk perusahaan yang arogan ?, seharusnya lahan tersebut dikembalikan kepada negara dan biarkan para petani kecil yang menggarap dan diberikan kekuatan dan kepastian hukum yg jelas berupa surat-suratnya. PT. SIL kenapa sedemikian bodoh dan tidak punya managemen kalau sampai mengambil lelangan si koruptor.

    BalasHapus