Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Bergolak Lagi, Ratusan Warga Datangi PT SIL

KETAHUN – Konflik lahan antara masyarakat dengan pihak perkebunan swasta kali pecah. Sedikitnya 200 warga Desa Lembah Duri, Kecamatan Ketahun Bengkulu Utara, mendatangi areal perkebunan PT Sandabi Indah Lestari (SIL).

Tak hanya meminta PT SIL menghentikan aktivitas meratakan lahan yang masih dipermasalahkan dengan warga, dalam unjuk rasa itu juga diwarnai kekerasan fisik. Dua karyawan perkebunan PT SIL Bambang dan Suep menjadi korban pemukulan massa. Untungnya, sebelum babak belur keduanya berhasil meloloskan diri. Lolosnya dua karyawan tersebut, warga mengalihkan pelampiasan kemarahannya dengan merusak satu unit motor milik karyawan. Motor dipukul dengan benda keras. Akibatnya kap motor pecah. Beruntug tak sampai dibakar, karena keburu diselamatkan warga lainnya sesame pengunjuk rasa.

Data terhimpun RB, awalnya sekitar pukul 17.30 WIB kemarin (3/12), sebanyak 200 warga berkumpul, kemudian bergerak menyisiri areal kebun PT SIL yang terdapat karyawan yang melakukan aktivitas perataan tanah. Massa bersenjatakan kayu merangsek ke lokasi perkebunan sawit tersebut, mendapati 2 karyawan PT SIL Bambang dan Suef sedang bekerja. Tanpa basa basi, selain memintanya berhenti bekerja warga langsung menghujani keduanya dengan bogem mentah. Untungnya beberapa tokoh masyarakat yang tergabung dalam massa melerai hal itu, kesempatan itu dimanfaatkan Bambang dan Suef kkabur menaiki motornya.

Dalam aksi yang terkendali itu tak sampai disertai aksi bakar-bakaran seperti aksi demo masyarakat terhada PT SIL di Seluma. Meski begitu, tak lama aksi warga, sebanyak 50 personel polisi didatangkan ke lokasi perkebunan untuk melakukan pengamanan.

Baru sekitar puul 19.00 WIB warga berangsur pulang ke rumahnya. Sedangkan seluruh alat berat milik perusahan sudah ditarik mundur ke base camp guna mengantisipasi kejadian di Seluma terulang.

Kapolres Bengkulu Utara AKBP. Harries Budiharto, S.Ik, M.Si melakui Kapolsek Ketahun AKP. Abdu Arbain membenarkan adanya aksi massa tersebut. Namun sekitar pukul 21.00 WIB semalam warga sudah berhasil ditenangkan.

Kepada polisi warga hanya meminta aksi perataan tanah yang masih bersengketa antara PT SIL dan warga untuk dihentikan lebih dulu sebelum adanya negosiasi ulang. Mendengar keinginan itu polisi bersama unsur tripika berjanji akan mefasilitasi warga dan perusahaan untuk melakukan pembicaraan.

“Tuntutan warga sudah kita tenangkan, kita sudah serap aspirasinya. Kita harap perusahaan bisa kooperatif dalam mengambil tindakan dan bersedia bernegosiasi dengan warga. Untuk aktivfitas di areal yang sedang dipermasalahkan itu untuk sementara dihentikan,” terang Abdu.

Terpisah General Manager PT SIL Hendro dikonfirmasi RB tak membantah adanya aksi massa dan dua karyawannya menjadi korban pemukulan. Ia sendiri bersedia menghentikan semua aktivitas yang sempat berjalan hingga dicapainya kesepakatan dengan warga.

“Sebelum warga bergerak sekitar pukul 16.00 WIB pemuka masyarakat setempat sudah menghubungi saya meminta agar alat berat ditarik, dan itu sudah kita lakukan. Meskiun sempat panas, saya tetap tak ingin aksi massa berlanjut lebih anarkis,” kata Hendro.

Ia mengaku tidak menyangka jika 300 hektare lahan yang digarapnya dari 900 hektare HGU bisa bermasalah. Pasalnya, sebelumnya sudah dilakukan pembebasan pada warga yang menduduki HGU, sejak areal tersebut masih menjadi milik PT Ways Sebayur dalam proses sidang di Jakarta.

“Kita akan melakukan perundingan ulang. Saya janji semua aktivitas akan dihentikan di lokasi perkebunan. Sekarang semuanya saya serahkan pada pihak kepolisian,” demikian Hendro

(http://harianrakyatbengkulu.com/?p=5789)

0 komentar:

Posting Komentar