Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Mengenal Perkampungan Dalam HGU, Dusun IV Minggir Sari

Pemukiman Masyarakat Minggir Sari
Masyarakat Dusun IV Minggir sari awalnya tinggal di rawa-rawa. Namun karena sering terjadi banjir dan kebakaran mendiang Hamidan tokoh masyarakat pada waktu itu menyarankan agar masyarakat mengirimkan surat izin kepada manager PT. Way Sebayur untuk menempati HGU PT. Way Sebayur. Kemudian Rafi’i, tokoh masyarakat dusun IV Minggir Sari langsung mendatangi Manager Way Sebayur untuk meminta izin tinggal di HGU Way Sebayur.

Awalnya Rafi’i meminta lokasi di perempat jalan, Namun dilarang oleh kepala desa dan disarankan untuk sedikit minggir. Inilah yang menjadi cikal bakal nama Dusun Minggir Sari.

Areal Dusun IV Minggir Sari awalnya adalah hutan. Tahun 1998 dan 1999 masyarakat mulai melakukan penebasan untuk lokasi pemukiman dan mengumpulkan kayu untuk bahan membuat rumah. Rumah pertama yang berdiri adalah rumah Rafi’i, yaitu pada tahun 2000. Kemudian disusul oleh rumah-rumah warga yang lain. Tercatat ada 17 kk pertama yang menetap di dusun IV Minggir Sari dan diakhir tahun 2000 bertambah menjadi 29 kk.

Awalnya fasilitas agama dan pendidikan masih sangat minim. Memang sebelumnya telah ada masjid, yaitu masjid di pemukiman lama yang dipindahkan. Namun masjid ini sangat kecil, sehingga tidak mencukupi untuk tempat ibadah masyarakat. Masyarakat berembuk agar dapat mendirikan masjid baru. Mereka berbagi tugas. Ada yang mengumpulkan kayu, mengumpulkan sumbangan sukarela untuk membeli paku dan lainnya. Masyarakat juga mendapat bantuan dari desa Ngalam berupa seng bekas.

Selain fasilitas agama Rafi’i juga mengupayakan berdirinya sekolah. Rafi’i diberi petunjuk untuk menghadap Mulyadi Usman, staf Departemen Agama Bengkulu Selatan pada waktu itu. Rafi’i menjelaskan bahwa dusun IV Minggir Sari jauh dari fasilitas pendidikan, padahal anak-anak mau sekolah. Mulyadi kemudian bertanya mau tipe sekolah seperti apa? Rafi’i balik bertanya, yang cepat prosesnya tipe sekolah apa.  Atas usul Mulyadi dipilihlah madrasah ibtadiyah.

Rafi’i diberi uang 25 juta oleh Departemen Agama. Uang tersebut digunakannya untuk membeli bahan bangunan sekolah. Salah seorang staf departemen agama mendatangi Rafi’i meminta uang tersebut jangan digunakan semuanya, cukup 15 juta saja dan sisanya untuk mereka berdua, namun Rafi’i menolak. 

Setelah melalui perjuangan yang cukup panjang, akhirnya sekolah berdiri pada bulan  Agustus 2003.

Tahun 2002 dusun IV Minggir Sari didaftarkan ke Desa Tumbuan, dan mendapat SK penetapan dusun dari camat Lubuk Sandi. Ditahun berikutnya dilakukan pemilihan kadus pertama dan Rafi’i terpilih sebagai kadus. Masyarakat juga terlibat aktif dalam pilkada dan di dusun IV Minggir Sari ada 1 TPS untuk pemilihan umum.

Di tahun 2011, PT Sandabi Indah Lestari memangkan lelang atas HGU PT. Way Sebayur. dan penguasaan lahan beralih kepada PT. Sandabi Indah Lestari, termasuk dusun IV Minggir Sari. Hal ini yang menjadi awal konflik antara masyarakat dengan PT. SIL. PT. SIL ingin menguasai lahan dan pemukiman warga. Berbagai cara dilakukan agar warga memberikan atau menjual lahannya dengan harga yang murah kepada PT. SIL, termasuk dengan cara intimidasi. Jumlah kk di Minggir Sari mencapai 226 kk namun terus berkurang karena terus diintimidasi oleh perusahaan. Masyarakat terpaksa menjual lahannya dengan harga murah dan pindah ketempat lain.

Intimidasi tidak hanya dilakukan oleh pihak perusahaan. Ada juga anggota kepolisian yang mendatangi Rafi’i beberapa kali meminta agar lahannya dijual kepada PT SIL, namun Rafi’i tetap menolak. Tahun 2014 lalu PT SIL memutuskan jalan akses menuju Minggir Sari. Masyarakat marah dan berkumpul menanyakan tujuan perusahaan memutuskan jalan tersebut. Karyawan PT SIL mengatakan bahwa ini adalah tugas dari manager. Akhirnya masyarakat menyuruh karyawan tersebut untuk memperbaiki kembali jalan yang telah dirusaknya.

Masyarakat lain yang pernah diintimidasi adalah Ruslan. Ruslan pernah menjabat kepala dusun. Bersama anggota Fotum Petani Bersatu ia aktif berjuang untuk mendapatkan pengakuan atas ruang kelolah mereka. Karena aktifitasnya, Ruslan dinonjobkan dari kepada dusun. Ruslan pun pernah digebuki oleh karyawan PT. SIL karena tidak mau menjul lahannya kepada perusahaan. 

Saat ini penduduk dusun iv minggir sari hanya tersisa 64 kk. Mereka masih berjuang mempertahankan ruang kelolah, demi kehidupan anak cucu yang lebih baik. Apapun resikonya.


0 komentar:

Posting Komentar