“Petani dan Pangan adalah pondasi bangsa; jelaslah bicara petani dan pangan berhubungan erat dengan hidup dan matinya sebuah bangsa”
Transisi dari sistem latifundium menuju sistem asentamiento, mengharuskan reformasi agraria memiliki pemikiran kritis tentang sistem kehidupan masyarakat baru (New society) dan konsekuensi-konsekuensi yang menyertainya.
Perubahan ini bisa terhambat hanya dengan masalah yang sederhana, yang akan mereduksi transformasi sekedar menjadi tindakan yang mekanistik dan melahirkan sistem asentamiento yang tidak jauh berbeda dengan sistem latifundium sebelumnya. sedikit saja kesalahan akan menjadi persoalan karena berkenaan dengan cara memperlakukan sesuatu, karena nantinya masyarakat baru (new sosiety) akan meniti kehidupan dalam sistem pertanian yang baru juga.
Paham mekanisme, teknikalisme, dan ekonomisme adalah paham yang harus dikritisi selama berlangsung proses reformasi pertanian, karena ketiga paham tersebut akan mereduksi keberadaan petani, dan meletakkan peran petani hanya sekedar obyek transformasi. kalangan reformis harus menentukan untuk siapa perubahan ditujukan, dan  menggeser keberadaan petani yang semula menjadi objek kearah yang lebih memanusiakan yakni sebagao subyek dalam proses transformasi tersebut.
menelanjangi paham teknikalisme bukan pula berati petani dibawa kearah yang anti terhadap sesuatu yang berbau teknik, petani masih dapat mengadopsi teknik-teknik baru untuk meningkatkan jumlah produksi pertaniannya. jika perubahan hasil dirasa cukup maka tidak ada pilihan lain bagi mereka untuk menggunakan teknik-teknik yang dikembangkan oleh para teknisi-teknisi guna mengganti apa yang selama ini digunakan petani. tapi, seyogyanya fakta-fakta empirik menunjukkan bahwa kemajuan yang berarti bahwa teknik-teknik bertani baru, ilmu pengetahuan ilmiah dan pengalaman praktis bertani secara kultural telah dikuasai dan yang khusus sudah dipakai dan membudaya.
ideologi-ideologi yang berkembang dalam ruang dan waktu (spatial dan temporal) tertentu, cenderung melahirkan permasalahan besar, karena meremehkan kreativitas dna kapasitas regeneratif petani, menegasikan pengetahuan petani, dan berupaya mengisi mempengaruhi pikiran petani dengan keyakinan para teknisi. menentang ideologi tersebut tidak juga lantas mengharuskan petani untuk menolak kenyataan hidupnya dan ekonomi-politik nasional. penting untuk ditegaskan bahwa Petani tidak boleh dianggap sebagai ” bejana kosong ” yang diisi dengan pengetahuan, mereka harus diperlakukan sebagai subyek yang hidup menurut keyakinan mereka sendiri.
reformasi agraria disektor pertanian menitikberatkan keyakinan pada peningkatan produksi, tetapi yang harus menjadi diskursus adalah bagaimana memaknai dan meningkatkan produksi, sebuah pandangan keliru dan sesat pikir jika peningkatan produksi harus berkerjasama dengan ” Dunia masa kini “. karena pandangan tersebut hanya menjadikan petani sebagai alat produksi untuk memenuhi hasrat pasar global. permasalahan tersebut tidak bisa diabaikan begitu saja, jika masalah tersebut masih diabaikan, berarti esensi permasalahannya belum tertangkap sepenuhnya dan akan menimbulkan bias reformasi agraria. akhirnya perubahan cara kerja tidak dianggap sebagai penciptaan sebuah dunia baru; sebuah kebudayaan dan sejarah baru yang berbanding terbalik dari masa sebelumnya. dan menjadi penjelas bagaimana suatu kebudayaan dihasilkan melalui proses yang berkesinambungan dan dipengaruhi oleh kebudayaan sebelumnya, dan benarlah jika peningkatan produksi bidag agrikultural tidak bisa dipisahkan dengan karakteristik kebudayaannya.
dalam reformasi pertanian untuk meningkatkan produksi, para teknisi mengalami kebuntuhan pikir dan kreativitas pada saat menghadapi karakteristik kebudayaan. karena petani menginginkan sesuatu yang lebih efesien dan lebih menghasilkan dan mempertimbangan keberlanjutan dengan cara kerja yang alamiah (tradisional).
dalam memandang dan memahami dunia, para petani menilai pola-pola kebudayaan dimasa global ini dikendalikan oleh ideologi kelompok dominan. cara berpikir yang terkondisikan oleh perilaku keseharian telah tumbuh dan mengkristal dalam ruang dan waktu yang teramat panjang (culture construction), jika perilaku dan pemikiran semacam ini masih berlanjut dalam sistem asentamiento maka petani akan sulit berjuang mempertahankan hak-haknya.
secara gamblang terlihat bahwa budaya-budaya latifunndium masih ikut merasuk kedalam sistem asenntamiento. sehingga perubahan hanya menyentuh lapis infrastruktur dan tidak mengimbas pada lapis suprastruktur.
reformasi pertanian da transformasi sosial akan lebih masif jika terjadi sinergi antara perubahan infra dan suprastruktur. karena banyak atribut negatif yang harus dilepaskan, salah satunya budaya bisu (silent culture) yang menjadi ciri sistem latifundium, yang tampak memaksa cara hidup petani untuk berubah sesuai dengan sistem asentamiento yang baru.
budaya bisu dilahirkan dari kondisi objektif kehidupan yang opresif, kondisi tersebut mempengaruhi pola tingkah laku petani dalam infrastruktur yang menindas dan terus berlanjut ketika telah terjadi perubahan infrastruktur.
583543f524918-ilustrasi-petani-bekerja-di-sawah_663_382
walaupun pengaruh struktur dominan cara pandang dan perilaku petani tampak seperti lenyap, namun tidak berarti budaya bisu sebagai atribut negatif tersebut lepas dari badan petani setelah berlakunya sistem asentamiento. pengaruhnya masih ada, karena tidak mudah dihilangkan begitu saja. dan tampak nyata ketika sistem baru menuntut petani untuk hidup dalam keadaan yang sudah berubah seperti sekarang ini. mematahkan pengaruh ini petani harus berdaya untuk menciptakan hubungan antar sesama dengan gaya hidup baru yang secara radikal berlawanan dengan sistem sebelumnya. hubungan antar sesama ini harus berciri baru dan didasarkan pada kenyataan material yang baru pula. budaya bisu seketika dapat “mengaktifkan” dirinya dalam kondisi tertentu dan mungkin dengan bentuk yang lain pula.
kekekalan budaya bisu hanya dapat diketahui dengan dialektika superdeterminisme (dialect of superdeterminism) hingga menjadi besar dan membutuhkan perubahan yang revolusioner.
untuk mengetahui dan menjelaskan reaksi masyarakat yang keras terhadap tantangan yang mereka hadapi dalam kehidupannya yang nyata ini perlu alat metodologis yang dapat melihatnya secara holistic da komprehensif, selain itu kita juga perlu mengetahui bahwa mereka masih menganggap majikan latifundium yang berkuasa sebagai model yang harus mereka ikuti, hantu ini juga mengikuti mereka bahkan pada saat mereka sudah menjadi bagian dari sistem asentamiento dan mereka masih merasa wajar untuk menokohkan majikannya, seperti ungkapan-ungkapan pengkultusan ” Tuan yang selalu benar “. pada saat itulah mereka melontarkan ungkapan tersebutlah mereka mempertanyakan status mereka dalam sistem asentamiento, maka dari itu mereka harus meniadakan perannya terdahulu sebagai objek dan kemudian memerankan diri sebagai subyek. jika ini terjadi, selanjutnya mereka mempunyai atasan baru dalam sebuah organisasi atau agen yang bertugas mengatur administrasi reformasi pertanian.
kenapa-petani-indonesia-miskin-810x506
reaksi petani ini tidak akan dimengerti oleh mereka yang dahulu menerapkan pengajaran yang mekanistik. karena percaya bahwa perubahan suprastruktur akan berjalan secara otomatis begitu terjadi perubahan pada tingkat infrastruktur, mereka cenderung tidak ilmiah melihat perubahan-perubahan yang ada pada petani/ reaksi petani sehingga menjustifikasikan bahwa petani ” tidak mampu dan malas “, dan menjuluki petani sebagai orang yang cuma bisa mengucap ” terima kasih “.
konon katanya mereka merangsang petani untuk menentukan keputusan sendiri, tetapi tindakan mereka cenderung paternalistik, misalnya dengan menumbuhsuburkan budaya bisu dan mempertahankan sifat kecanduan petani. seyogyanya mereka tidak membantu petani merubah fatalisme dengan pandangan kritis namun cenderung serba pasrah, meskipun petani bertanya apa yang terjadi dibalik semua itu, dan petani hanya mendapatkan jawaban dari hasil malas fikir, ” bahwa keadaan ini adalah takdir dan hukuman tuhan “…
pada kondisi tersebut perlu kacamata struktural untuk melihat persoalan bahwa reprodusksi pengetahuan dan pendidikan pada petani tidak berjalan dengan benar. pendidikan itu dikataka benar jika petani mempunyai mobilitas yang tinggi dan secara aktif terlibat dalam sistem politik, untuk memperjuangkan kepentingannya,petani harus memiliki seperti apa yang disebut Goldman ” Kesadaran riil melalui kesadaran yang sangat memungkinkan (real consciuosness through maximal possible consciuosness) “. 
memobilisasi petani dengan mengembar-gemborkan welfare syndrome bukan pendekatan yang tepat untuk memecah persoalan, karena dengan pendekatan tersebut lagi-lagi petani akan menjadi objek dalam reformasi agraria, karena petani tidak diberi kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri yang seharusnya menjadi subjek sebenarnya.  maka kita harus membiasakan mereka terlebih dahulu untuk menentang budaya bisu, dan mereka dengan sendirinya membuang mitos-mitos yang selama ini berkeliling di pikiran mereka.
apabalila kebiasaan tersebut terus berlanjut, maka mimpi pola hidup yag menempatkan petani sebagai subjek akan dengan sendirinya mengembalikan mereka pada titik terenndah / memojokkan mereka sebagai objek dalam hubungan ” guru-murid, murid-guru”. untuk mencegah kondisi tersebut tidak terjadi sistem asentamiento harus dikenal juga sebagai sistem dengan kesatuan produksi dan kesatuan budaya. sehingga pengenalan teknologi tidak direduksi hanya sebagai transfer teknik, namun arus menjadi kegiatan yyang kreatif. dengan cara tersebut petani seharusnya mengetahui bahwa selama ini mereka dibuat diam dengan cara-cara tertentu dalam sistem latifundium yang opresif.
welfare syndrome dalam wujud aksi vertikal dan manipulatif harus melibatkan invasi budaya (cultural invasion), aksi yang menawarkan sintesa budaya (cultural synthesis). dan harus dilaukan sejak awal dan bersifat dialektispara ahli harus berkomunikasi secara dialektis dengan petani, dan selanjutnya asentamiento akan benar-benar hidup dan berfungsi sebagai mediator antara petani dan zaman.
agen dalam aksi ini harus memiliki inisiatif, dan tidak mendominasi sehingga petani turut memerankannya.
Aksi budaya yang berorientasi pada sintesa tersebut harus dimulai dengan menyelidiki tema-tema generatif dima petani dapat melakukan refleksi da meilai diri secara kritis. dengan menghadirkan keadaan objektif (bagaimana dan dimana petani berada), dalam memecahkan masalah tadi, petani akan mengoreksi pandangan-pandangan dunianya terdahulu melalui kodifikasi untuk mengetahui pegetahuan yang mereka miliki pada ruang dan waktu saat itu. saat melakukan koreksi degan kodifikasi tersebut mereka akan memperluas wawasan dan melalui perenungan yang mendalam dan mereka dapat mengapresiasi pengetahuan yang pada saat itu tidak mereka pahami, dan sekarang mereka tangkap dengan jelas.
aksi budaya ini akan memiliki makna jika dihadirkan sebagai contoh pengalaman sosial secara teoritis dimana petani turut serta berperan aktif. jika petani teralienasi dari pengalaman atau aksi kebudayaan ini mereka akan kehilangan dirinya dan menjadi kosong tidak bisa berkata-kata.
akhirnya aksi budaya ini sebagaimana yang kita pahami tidak begitu saja menjadi visi dan kesadaran petani; juga petani tidak otomatis meyesuaikan diri pada aksi itu; visi dan kesadaran ini memerluka starting point yang dilakukan guru bersama petani untuk melakukan evaluasi secara kritis mengenai/pandangan dunia mereka. sehingga keterlibatan petani dalam transformasi yang sebenarnya menjadi lebih jelas dan makin meningkat.
keterangan gambar :
  1. url
  2. url
  3. url
  4. url
  5. url
Sumber : https://teoreffelsen.wordpress.com/2018/03/05/resume-bab-4-aksi-budaya-dan-reformasi-agraria-paulo-freire-politik-pendidikan-kebudayaan-kekuasaan-dan-pembebasan/