Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

PULUHAN HA SAWAH ABRASI AKIBAT GALIAN C

Bengkulu, 29/7 (ANTARA) - Puluhan hektar sawah petani di Desa Resno dan Lalang Luas Kecamatan V Koto Kabupaten Mukomuko mulai mengalami abrasi akibat penggalian batu koral dan pasir sungai atau galian C di Sungai Air Manjunto.

"Sebagian sawah sudah tergerus karena galian C di atas bendungan Air Manjunto karena batu dan pasir penahan air sudah dikeruk,"kata Mahmud, salah seorang petani setempat, Rabu.

Apalagi kata dia saat ini tanaman padi petani sudah berumur satu bulan dan terancam hanyut seiring meluasnya areal yang terkikis oleh aliran air sungai akibat pengambilan batu koral dan pasir.

Selain mengancam abrasi 30 ha sawah di Desa Lalang Luas dan 55 ha sawah di Desa Resno, galian C ini juga terancam menenggelamkan 50 ha areal perkebunan sawit dan karet milik warga dua desa tersebut.

Mahmud mengatakan aktivitas galian C sudah berlangsung selama empat tahun dimana pengambilan secara manual selama dua tahun dan menggunakan alat berat selama dua tahun terakhir.

Akibatnya kata dia, warga dua desa mulai resah dan telah menyampaikan persoalan ini ke Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Bengkulu.

"Sebelumnya kami sudah meminta Pemda untuk menutup galian ini tapi tidak ada tindak lanjut sampai saat ini, makanya kami sudah menyurati Walhi untuk membantu kami mencari jalan keluar,"katanya.

Direktur Yayasan Genesis Mukomuko yang merupakan lembaga anggota Walhi Bengkulu, Barlian mengatakan pihaknya sudah mengkampanyekan dampak galian C tersebut melalui media lokal namun hingga saat ini tidak ada tindakan dari Pemerintah Kabupaten Mukomuko selaku pemberi izin galian.

"Tidak hanya sawah masyarakat yang akan terjun ke sungai, bendungan irigasi Manjunto juga terancam jebol dengan galian ini karena tendangan air tidak seimbang lagi, saat intensitas hujan tinggi ini tinggal menunggu waktu,"katanya.

Barlian mengatakan pihaknya akan menyurati Bupati Mukomuko untuk meninjau kembali keberadaan galian tersebut karena resiko yang ditimbulkan terlalu besar.

Setiap hari tidak kurang dari 25 truk batu koral dan pasir sungai dikeruk dari sungai tersebut dan hal ini membuat stabilisasi aliran sungai terganggu.

Bencana yang berpotensi ditimbulkan antara lain banjir dan kekeringan ke puluhan ribu ha areal persawahan di Kecamatan Lubuk Pinang, Kecamatan V Koto dan Kecamatan XIV Koto jika bendungan Irigasi Air Manjunto jebol.

Sumber: www.antaranews.com

0 komentar:

Posting Komentar