Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

Setiap Hari, 500 Warga Padati Tambang Emas

Menurut Kades Pasar Ketahun, Rozali Bakar, saat ini sedikitnya ada 500 warga setiap harinya melakukan penambangan di lokasi tepi pantai tersebut. Warga rela bermalam-malam hingga mempertaruhkan jiwa melakukan penambangan. Penghasilan yang diperoleh warga berkisar Rp 160-200 ribu per hari. Setiap hari, warga bisa mengumpulkan 2 gram emas dengan kadar 80 persen yang hanya dihargai Rp 80 ribu per gramnya.

“Memang kadar emasnya tidak sama dengan yang dijual di toko. Tapi pembeli emasnya mengakui jika itu emas asli,” ujar Rozali.

Ia juga mengungkapkan, tak hanya warga Ketahun yang melakukan penambangan, 2 bulan lalu ketika baru ditemukannya kadar pasir emas, sedikitnya 500 warga perhari yang memadati lokasi tersebut, bahkan sampai menginap. Bahkan, pihak desa memberlakukan retribusi Rp 50 ribu untuk tiap kelompok yang berjumlah 5 orang.

“Kalau sekarang tidak ada lagi yang menginap, semenjak saya larang untuk menambang malam hari. Setiap siang juga anggota polisi berjaga untuk mengamankan warga jangan sampai ricuh dan tidak mengeruk tebing pantai,” terang Rozali.

Penambang juga tak perlu bingung mencari pembeli emas hasil tambangan mereka, pasalnya sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB tengkulak emas dari pasar ketahun sudah bersiap memasang kursi dan meja lengkap dengan timbangan elektrik untuk membeli emas warga. Diperkirakannya, lebih dari Rp 50 juta uang yang harus dikeluarkan tengkulak untuk membeli emas dari penambangan tradisional warga.

“Khusus tengkulak, kami tidak memperbolehkan pedagang luar Ketahun yang masuk, pembeli hanya untuk pedagang asal Ketahun. Kami juga sudah meminta izin secara lisan dengan pihak Distamben ketika mereka datang kelokasi, dan diizinkan,” demikian Rozali.

Dipertimbangkan Ditutup

Sementara itu, pihak Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Bengkulu Utara (BU) mulai memikirkan solusi terkait penambangan emas tanpa izin tersebut. Plh Kadistamben BU Kahar Muzakar, SH mengungkapkan pihaknya akan meninjau ulang sistem keamanan yang terkait penambangan tersebut. Tak hanya sistem keamanan, dinas juga akan memantau kemungkinan masyarakat melakukan penambangan pasir emas hingga mengeruk tebingan pantai sehingga longsor ataupun abrasi terjadi.

“Kita akan cek lagi ke lapangan, bagaimana kondisi sekarang. Dulu perna kita cek untuk melihat kadar emas yang ada. Sekarang apakah layak lokasi itu dilakukan penambangan tradisional, kalau memang tidak layak akan kita cari solusinya, atau kita tutup. Jangan sampai menelan korban berikutnya,” terang Kahar.

Terkait kadar emas yang terkandung ia mengungkapkan berdasarkan hasil penelitian labor di wilayah tersebut sama sekali tidak terkandung emas baik yang terdapat di atas lapisan pasir ataupun yang terkandung didalam tanah. Sedangkan, keberadaan emas tersebut diperkirakannya berasal dari hanyutan emas penambang dari desa Lebong Tandai Napal Putih yang terbawa air. Hal ini juga ditafsirkannya dengan keberadaan penambang emas di wilayah pesisir pantai Desa Pasar Palik Air Napal.

“Kita sudah cek, tadinya kita berpikir ada emas dari dalam bumi yang terangkat karena gempa, nyatanya tidak ada. Makanya kita biarkan masyarakat menambang, karena asumsi kita itu tidak akan lama,” ujar Kahar.

Ditambahkannya, dengan adanya indikasi penambangan emas dilakukan warga hingga mengeruk bagian tebing pantai, Distamben akan berkoordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup untuk melihat adakah kemungkinan kerusakan alam yang dilakukan penambang tersebut. “Memang menutup itu tidak mudah, apalagi yang sudah menjadi pendapatan masyarakat. Kita harus punya dasar yang jelas,” demikian Kahar. (qia)
Sumber Aslinya: http://www.harianrakyatbengkulu.com/ver3/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=17&artid=8592

0 komentar:

Posting Komentar