Walhi News
Mail Instagram Pinterest RSS
About Walhi

6 Aktivis Walhi Bengkulu Ditangkap


Penangkapan ini setelah sebelumnya aksi diam untuk menolak World Ocean Conference (WOC) dan penangkapan aktivis Walhi di Manado ini dibubarkan polisi lantaran tak ada izin melakukan aksi demonstrasi. Pembubaran ini diwarnai kericuhan yang dipicu kata-kata yang dilontarkan oknum kepolisian.

Awalnya, sekitar pukul 10.15 WIB, 6 orang aktivis berkumpul dan melakukan aksi di simpang lampu merah Jl. Asahan (depan kantor DPRD Provinsi). Aksi diam ini dilatarbelakangi Indoensia yang menjadi tuan rumah Konferensi Laut Dunia atau WOC di Manado yang berakhir kemarin. Perhelatan internasional ini dihadiri 87 negara. Dimana agenda utamanya laut dijadikan sebagai alat penyerap penyebab perubahan iklim dunia.

Baru sekitar 20 menit para aktivis melakukan aksi diamnya di trotoar sambil membentang spanduk bertuliskan “Tanah Air Tidak Untuk Dijual”, “Tolak WOC” dan “Taman Nasional Laut penjara bagi nelayan, surganya para pemodal”, sekitar 3 orang aparat kepolisian dari Polres Bengkulu menanyakan izin aksi.

Seorang aparat kepolisian, Heru Kristian bersikeras memaksa 6 aktivis Walhi membubarkan diri karena dianggap mengganggu ketertiban umum.
Terang saja ini mendapat perlawanan, “adu mulut” mengenai UUD pasal 28 yang isinya kebebasan warga negara menyampaikan pendapat dimuka umum dan UU No 9/1998 tentang menyampaikan pendapat dimuka umum tak terelakan.

Direktur Walhi Bengkulu, Zenzi Suhardi yang juga korlap aksi mengatakan, setiap warga negara berhak menyampaikan aspirasi dan dilindungi undang-undang. Sehari sebelumnya, seorang perwakilan juga telah mengirim surat pemberitahuan aksi.

Diakui, mereka memang belum mendapat izin Polres. Meski begitu Zenzi berargumen kalau aksi diam Walhi tidak mengerahkan massa. Ia juga membantah kalau aksi yang mereka lakukan dianggap mengganggu ketertiban umum.

“Jelas saja pengguna jalan berhenti Pak. Di sini kan lampu merah. Selagi menunggu lampu merah tidak salah kalau melihat spanduk aksi kami. Kami hanya diam. Apa bedanya dengan memajang spanduk dipinggir jalan,” tukas Zenzi.

Sayangnya argumen ini tak diterima aparat yang tetap ngotot membubarkan aksi. Memilih untuk mengalah, Zanzi yang juga korlap aksi mengumumkan bahwa aksi dibubarkan. Ini sekitar pukul 10.45 WIB.

“Dengar kawan-kawan. Kita bubarkan aksi ini dan spanduk ini kita pasang. Kalau ada yang masih ingin menunggu angkot atau menunggu waktu Salat Jumat, silahkan menunggu,” seru Zenzi pada aktivis Walhi lainnya.

Mereka lantas memasang spanduk di pagar DPRD Provinsi, lalu berkumpul di depan pagar sambil memegang spanduk lainnya. Tindakan aktivis yang tak kunjung membubarkan diri nampaknya membuat aparat kesal. Salah seorang anggota Polres menghubungi Mapolres dan meminta bantuan 1 unit mobil patroli.

“Kan tadi sudah diperingatkan untuk membubarkan diri. Kenapa belum bubar juga. Kalau tidak mau bubar terpaksa kami bawa saja ke Mapolres,” kata seorang aparat yang mengenakan baju preman.

Terang saja ini kembali membuat aktivis kesal. “Kami tidak takut. Apa salahnya kalau kami berdiri disini. Kami umat muslim dan menunggu waktu salat Jumat. Apa salah kalau kami berdiri disini,” celutuk Zenzi.

Merasa kesal, aparat mulai menarik beberapa aktivis. “Lindungi korlap, lindungi korlap,” seru salah satu aktivis. Suasana pun memanas, mereka berkumpul dan saling berpegangan untuk melindungi satu sama lain. Korlap aksi berusaha membuat anggotanya tenang dan tidak melakukan perlawanan. Suasana panas mulai reda dan polisi sudah melepaskan tarikannya.

Sayangnya, kondisi ini tak berlangsung lama. Celetukan seorang oknum yang ditujukan pada salah satu aktivis yang memakai tongkat untuk menopang kakinya dengan nada meremehkan kembali membuat situasi kembali memanas. “Tolong dijaga kata-kata anggota Anda. Aparat adalah orang berpendidikan. Jangan mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas,” kata aktivis yang mengenakan tongkat, Dwi, dengan emosi.

Pernyataan ini, kembali memicu kericuhan. “Sudah, angkut saja mereka ke mobil,” kata polisi berpakaian preman memerintah personel lainnya. Tarik-menarik antara aktivis dan polisi pun terjadi karena aktivis melakukan perlawanan. Akhirnya aktivis mengalah, keenam aktivis ini dibawa ke Mapolres menggunakan mobil patroli.

Dwi (aktivis yang menggunakan tongkat) sempat terjatuh dan diseret aparat ke mobil. “Jangan begitu, bagus-bagus masukan dia ke mobil,” kata aparat berpakaian preman mencegah personel polisi menyeret Dwi.

Kabag Ops Polres, Kompol Burkan Rudi, SIK membenarkan penangkapan 6 aktivis Walhi. Hanya saja hari yang sama mereka langsung dilepas. “Kita hanya memberikan pengarahan. Melakukan aksi boleh-boleh saja, asalkan harus sesuai posedur,” kata Burkan.

Tolak WOC

Direktur Walhi Bengkulu, Zenzi Suhardi mengatakan, aksi diam ini sengaja dilakukan. Sebab sebelumnya aksi dengan orasi yang menyuarakan aspirasi sama sekali tak didengar pemerintah. Malah 7 aktivis Walhi di Manado ditangkap. “Lebih baik kami aksi diam. Biar udang,ikan dan hewan lainnya yang berbicara dengan pemerintah,” kata Zenzi.

Pertemuan internasional tersebut diangap memberikan ruang bagi dunia internasional untuk mengkapling laut Indonesia sehingga nelayan Indoensia yang berjumlah lebih dari 27 juta kehilangan media penghidupan. Lebih mengesalkan lagi pertemuan tersebut sama sekali tak dibahas tentang bagaimana pengusaha tambang telah membuang limbah ke laut dan menyebabkan hancurnya terumbu karang.

“Penangkapan Direktur Eksekutif Nasional Walhi, Berry Nahdian Furqon dan Erwin Usman disusul penangkapan 7 aktivis Walhi di Kalteng saat aksi solidaritas untuk Manado, merupakan bentuk represif negara terhadap kemerdekaan dan kebebasan warga negara dalam menyampaikan pendapat,” tegas Zenzi.

0 komentar:

Posting Komentar